Persebaya Surabaya tampaknya akan memasuki fase yang tidak mudah dalam lanjutan BRI Super League 2025/2026, terutama sepanjang bulan April yang bisa disebut sebagai periode penentu. Jadwal yang menuntut mereka bermain lima kali hanya dalam rentang sekitar 25 hari membuat ritme pertandingan menjadi sangat padat, hampir tanpa ruang pemulihan yang ideal. Dalam situasi seperti ini, bukan hanya soal strategi di atas lapangan, tetapi juga bagaimana tim mampu menjaga kondisi fisik dan rotasi pemain agar tetap kompetitif di setiap laga.
Dari sudut pandang tim pelatih, tantangan terbesar justru datang dari kondisi skuad yang belum sepenuhnya ideal. Bernardo Tavares mengakui bahwa tingkat kebugaran pemain masih belum berada di titik terbaik. Beberapa pemain inti masih bergulat dengan cedera, sementara yang lain baru kembali ke fase latihan ringan. Kondisi ini tentu membuat opsi rotasi menjadi terbatas, padahal jadwal padat menuntut kedalaman tim yang benar-benar siap digunakan kapan saja.
Dampak dari situasi ini sudah mulai terlihat di pertandingan sebelumnya, saat menghadapi Borneo FC. Persebaya terpaksa menurunkan pemain yang belum sepenuhnya fit, yang pada akhirnya berpengaruh pada performa tim secara keseluruhan. Skema permainan tidak berjalan optimal, koordinasi tampak kurang rapi, hingga berujung pada kekalahan telak. Dari sini terlihat jelas bahwa tantangan Persebaya ke depan bukan hanya soal menghadapi lawan, tetapi juga bagaimana mereka bisa mengatasi tekanan fisik dan menjaga stabilitas permainan di tengah jadwal yang sangat padat.
Persebaya Diuji Fisik
Situasi sulit yang tengah dihadapi Persebaya tidak dibiarkan berlarut begitu saja. Tim pelatih bergerak cepat dengan menggandeng tim medis untuk mempercepat proses pemulihan para pemain yang masih berkutat dengan cedera. Fokusnya jelas: mengembalikan kondisi fisik skuad agar bisa kembali ke lapangan dan berkontribusi maksimal. Bagi Bernardo Tavares, kondisi di mana pemain lebih banyak berada di ruang pemulihan dibandingkan sesi latihan tentu bukan situasi yang ideal, terlebih ketika tim sedang membutuhkan kekuatan penuh di fase kompetisi yang krusial.
Pendekatan yang dilakukan pun tidak sekadar pemulihan biasa, melainkan upaya intensif untuk mengejar waktu agar pemain bisa segera kembali masuk dalam rotasi. Hal ini menjadi penting mengingat kedalaman skuad Persebaya saat ini sedang diuji. Ketika pilihan pemain terbatas, setiap individu yang kembali fit akan menjadi tambahan energi yang sangat berarti, baik dari sisi kualitas permainan maupun kestabilan tim secara keseluruhan.
Namun, tantangan Persebaya tidak berhenti di situ. Jadwal pertandingan yang padat sepanjang April semakin memperumit situasi. Dalam waktu yang relatif singkat, mereka harus menghadapi serangkaian laga berat melawan tim-tim kuat. Ini bukan hanya soal kesiapan fisik, tetapi juga bagaimana tim menjaga konsistensi, fokus, dan manajemen energi di tengah tekanan pertandingan yang datang hampir tanpa jeda.
Jadwal Neraka Bajul Ijo
Persebaya Surabaya kini memasuki rangkaian laga yang bisa dibilang sebagai ujian sesungguhnya bagi ketahanan tim. Dalam waktu berdekatan, mereka harus menghadapi deretan lawan dengan karakter berbedaโmulai dari Persita Tangerang hingga Persija Jakarta, dilanjutkan dengan Madura United, Malut United, dan ditutup dengan laga sarat emosi melawan Arema FC dalam Derbi Jatim. Rentetan pertandingan ini bukan hanya soal kualitas lawan, tetapi juga tentang bagaimana Persebaya mampu menjaga stabilitas performa di tengah tekanan jadwal yang terus berulang tanpa banyak jeda.
Menurut Bernardo Tavares, situasi ini menjadi semakin kompleks karena kondisi skuad yang belum sepenuhnya ideal. Minimnya kedalaman tim ditambah dengan banyaknya pemain yang masih dibekap cedera membuat opsi yang tersedia menjadi terbatas. Dalam kondisi seperti ini, setiap keputusan menjadi krusialโmulai dari pemilihan pemain hingga pengaturan intensitas latihan. Tavares menyadari bahwa tantangan terbesar bukan hanya menghadapi lawan, tetapi juga bagaimana timnya bisa bertahan secara fisik dan mental dalam periode yang padat ini.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, tim pelatih mulai mengatur pendekatan yang lebih adaptif. Latihan tetap dijaga dalam intensitas tinggi agar karakter permainan tidak menurun, namun di sisi lain program pemulihan juga diperkuat untuk mencegah cedera tambahan. Ini menjadi keseimbangan yang cukup sulit, karena tim dituntut tetap agresif tanpa mengorbankan kebugaran pemain. Harapannya, badai cedera segera mereda sehingga Persebaya bisa kembali memiliki variasi taktik yang lebih luas. Saat ini, dengan posisi di peringkat ketujuh dan mengoleksi 39 poin dari 25 pertandingan, setiap laga ke depan menjadi sangat menentukan untuk menjaga peluang mereka tetap kompetitif hingga akhir musim.


